Sabtu, 15 Oktober 2016

Suntik Meningitis di RS Fatmawati

“Bu dokter, kalau saya gak mau suntik, saya bisa dapat kartu kuningnya gak?’ Tanya seorang pemuda yang berusia 20-an, dengan antrian satu nomor di depan saya.
“Ya nggak bisalah, kartu kuning ini salah satu syarat untuk umroh atau haji,” jawab dokter itu dengan suara agak keras.
“Tapi saya gak berkenan untuk disuntik. Saya hanya mau ibadah,” ujar pemuda itu bersikeras.
“Ya terserah anda saja, tapi saya tidak mau mengeluarkan kartu kuning ini,” bantah bu dokter itu dengan santai.

Minggu, 08 Juni 2014

CINTA itu bernama IBU


Sewaktu saya berusia 5 tahun, Bapak dan Ibu bercerai karena Bapak menikah lagi. Saya dan ketiga kakak saya ikut ibu semua. Padahal ibu tidak mempunyai penghasilan dan harus membiayai sekolah kami semua. Alhamdulillah kakak yang pertama mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi. Kakakku yang kedua berusaha mengajar sana-sini demi membiayai kuliahnya di UI, sedangkan aku dan kakakku yang ketiga masih sekolah.

Bapak tidak lagi memberi nafkah. Demi membiayai kehidupan kami, ibu melamar menjadi sales buku. Beliau diterima, rumah demi rumah diketuknya. Terkadang diusir, pernah pula dikejar anjing. Panas terik beliau jalani tanpa mengeluh, sesekali ia berhenti di mesjid untuk sholat atau sekedar menenangkan diri dan berdoa. 

Satu kali kakakku yang kedua, mas Is berada di rumah terus, sampai ibu bertanya mengapa ia tidak kuliah. Setelah didesak mas Is mengatakan bahwa ia harus membayar kuliah, kalau tidak akan DO.
Saat itu, seperti jatuh tertimpa tangga, ada pemberitahuan bahwa rumah kami akan disita. Kami harus keluar esok harinya. Kehidupan makin sulit dari sebelumnya. Tapi ibu tidak tinggal diam. 

Aku tidak tahu bagaimana prosesnya, tapi saat shubuh tiba. Ibu datang dengan sebuah truk kecil, meminta kami untuk membawa barang-barang untuk pindah.
Siangnya beliau minta ditemani mas ku untuk menemui dekannya. Menurut cerita Mas Is, Ibu meminta tambahan waktu dua hari lagi untuk melunasi SPP mas Is, jika dalam waktu dua hari belum dibayar, maka ibuku rela Mas Is dikeluarkan. Saat itu mas Is terbelalak kaget, apa bisa? Uang yang ia kumpulkan masih kurang banyak untuk memenuhi iuran tersebut. Bagaimana ibu bisa memenuhinya dalam waktu dua hari?

Rabu, 21 Mei 2014

Ikhlas itu... Just do it, and you will know



Kehidupan yang kujalani sampai usiaku sekarang, banyak memberikan pelajaran. Bahkan pastinya, itu akan terus berlangsung sampai ku mati.

Senang, Ceria, Sedih, Luka, Tawa semua mengalir...  yang pasti 

ketika kita terluka adalah mendoakan, ketika kita takut kehilangan adalah mengikhlaskan, ketika kita takut masalah adalah menghadapi

Hidup tak pernah terlepas dari itu 

ketika tahu hakikat hidup yang sebenarnya (beribadah untuk Allah), maka rasa sakit itu terasa tapi tak menjadi terlalu menyakitkan lagi.

Ketika tahu bahwa kita hidup hanya di antara dua titik
Maka kita hanya perlu mengisi garis yang menghubungkan dua titik tersebut dengan hal-hal yang memberikan manfaat bagi orang lain, berbuat baik, dan tentunya memberikan ‘nilai’ pada diri kita, menjadi manusia yang tak malu berhadapan dengan Allah nantinya.

Ketika kita tahu bahwa menikah adalah menyempurnakan setengah agama, maka menjadikan setengahnya lagi tiket masuk ke surga, adalah usaha, kerjasama yang kuat dan penuh kepercayaan antara suami istri tersebut.

Minggu, 04 Mei 2014

Wahai damai..Peganglah Tanganku




Beberapa hari yang lalu, saya sedang terheran-heran melihat seseorang yang dengan keras kepalanya menuntut, menekan, memaksa, menyalahkan orang lain, mengecilkan orang lain, meremehkan , mencerca dan bahkan tidak memberi kesempatan orang lain untuk bicara.Sehingga membuat seisi ruangan terperangah, takjub akan kelakuannya yang membuat kesal hampir seluruh isi ruangan..dan anehnya, ia sama sekali tak merasa telah membuat semua orang tak nyaman. Seperti gunung es meletus, ia meledak tiba-tiba dan serpihannya mencabik orang di sekitarnya. Oh my God, dia seorang ikhwah yang notabene sudah kenyang dengan materi materi tarbiyah. Bagaimana mungkin dia tidak bisa dibuat mengerti akan suatu keadaan atau situasi.

Tiba-tiba ada satu kata terlintas...”Damai”... 

Pasti banyak orang yang merindukan suasana damai, baik di lingkungan keluarga, pergaulan maupun dalam lingkup terbesar, yaitu negara. Tapi seringkali kita menyerahkan terjadinya perdamaian pada itikad baik orang lain, tanpa kita mau memulainya duluan.

Padahal inti dari terciptanya perdamaian itu dimulai dari kemampuan kita berdamai dengan diri sendiri. Artinya? Kita tidak lagi disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan menyangkut diri sendiri. Misalnya tentang saya seperti apa, bagaimana orang memandang saya, dsbnya. Tapi bukan berarti kita cuek atas pendapat orang lain atau tidak peduli pada diri sendiri, melainkan hal-hal itu sudah lama kita proses dan kita temukan jawabannya.

Untuk bisa berdamai dengan diri sendiri memang tak mudah. Harus banyak sisi positif dari diri kita yang dimunculkan dan kita yakini. Sisi negatif dari diri kita harus selalu diupayakan untuk mengubahnya, minimal menguranginya. Butuh kemampuan untuk menerima kenyataan, akan hal yang tidak bisa didapatkannya. 
Seorang anak kecil ketika menginginkan mainan bersikeras mengatakan
 “Pokoknya aku mau itu!, harus beli!”. 
Orang mungkin akan maklum karena ia masih anak-anak, tapi kalau orang dewasa seperti itu, tentu tidak sama.
 
Apakah tokoh pada cerita diawal, termasuk orang yang tidak bisa berdamai dengan diri sendiri?

Berikut ciri-ciri orang yang tidak bisa berdamai dengan